Keajaiban Masjid Al-Muhdlor Tarim, Hadromaut

Isi Konten [Tampilkan]

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 


Kaum muslimin & muslimat, ikhwan & akhwat sahabat DA'I yang dimuliakan ALLAH SWT. 
Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan pengetahuan tentang :

PESONA DAN KEAJAIBAN MASJID AL-MUHDLOR  ( Yaman )

  • Masjid Dengan Menara Tanah Liat Tertinggi di Dunia


  Tarim adalah salah satu kota di Provinsi Hadlramaut yang kaya akan kekhazanahan dan keajaiban nya, baik itu berupa intelelektual, sejarah, peradaban maupun budaya. 
Bukti kekhazanahan peradaban dan budaya di kota tersebut adalah banyaknya bangunan-bangunan kuno yang menjadi identitas khusus Negeri Para Habaib, di antaranya adalah Masjid Al-Muhdlor.
  • Menara Terbuat dari Tanah Liat

   Keunikan dari Masjid ini ialah bahan bangunan dan menaranya terbuat dari tanah liat. 
Tidak Heran jika setiap hari selalu ada peziarah baik dari lokal maupun domestik yang datang ke masjid ini. 
Tidak ada data valid yang menyebutkan tahun awal mula pembangunan masjid ini, yang jelas masjid yang dibangun oleh Syekh Umar Al-Muhdlor bin Abdurrahman Assegaf ini tidak melampaui tahun 833 H/1430 M. 
Dan sejak awal pembangunan, masjid yang menaranya dijadikan sebagai simbol ‘Aashimah Tsaqofah Islamiyah ( Pusat Kebudayaan Islam ) pada tahun 2010 M. Masjid ini telah mangalami renovasi berkali-kali seperti perluasan area. 
Pada awal berdirinya, ukuran masjid ini hanyalah 63×93 kaki dan pada saat ini ukurannya menjadi 43×54 meter persegi.

Jika Ikhwan-Akhwat menziarahi masjid ini, Antum pasti akan terkagum-kagum pada desain dan ornamen-ornamen yang sangat begitu artistik. 
Simbol ciri khas bangunan model Yaman begitu menonjol pada setiap detail arsitektur Masjid ini. 
Dan yang paling mempesona dari Masjid Al-Muhdlor ini adalah menaranya. 
   Menaranya murni terbuat dari labin, yaitu tanah liat yang dikeringkan tanpa dibakar, dan dengan kerangka batang pohon kurma, tanpa menggunakan besi sedikitpun. Menaranya berbentuk persegi empat, berdiri tegak setinggi 40 meter, dengan lima tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil di setiap tingkatannya. 
Menara ini dihiasi oleh ornamen-ornamen yang memukau, bercatkan kapur putih bersih membuat menara ini tampak gagah dan indah sehingga menjadi pusat pemandangan angkasa Tarim. Hinga saat ini menara Masjid Al-Muhdhor menjadi menara tertinggi di Yaman, bahkan di dunia yang terbuat dari tanah liat.

Ada cerita yang tersebar dari mulut ke mulut di kalangan penduduk Tarim akan menara masjid ini. Konon pada saat pembangunan menara, tukang batu yang di serahi tugas untuk membangun menara tersebut takut karna tidak lazim membuat bangunan dari tanah liat setinggi 40 meter. Kemudian Imam Muhdlor naik ke tiang seraya membawa manguk yang berisi air, lalu mangkuk dijatuhkan dari ketinggian, ajaib! Mangkuk tersebut jatuh sampai ke tanah tanpa menumpahkan isinya walau setetes pun. Lalu beliau berkata kepada tukang batu tersebut: “Ku jamin keselamatanmu seperti air yang ada di dalam mangkuk ini”. Setelah itu, barulah si tukang berani menjalankan tugasnya dengan mantap dan semangat. Meski sudah berusia ratusan tahun, keindahan menara masjid Muhdlor tidaklah luntur, bahkan semakin di makan usia semakin menampakkan keunikannya sebagai salah satu kekhasanahan peradaban umat Islam di kota kecil namun menjadi sumber ilmu para penuntut ilmu dari belahan dunia.


Di masjid ini banyak dilaksanakan agenda rutin yang sudah menjadi tradisi di kota Tarim, seperti maulid nabi yang diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan juga khatmil qur’an di hari-hari tertentu bulan Ramadhan dan juga majlis ta’lim. Pada mulanya sholat Jum'at dulu dilaksanakan di masjid ini, sampai akhirnya dipindah ke masjid Jami’ yang memuat kapasitas orang lebih banyak.




  • Syekh Umar Al Muhdhor


  Tidak lengkap rasanya kalau tidak sedikit bercerita tentang Syekh Umar Muhdhor yang nama Masjid tadi dinisbatkan padanya.

Beliau adalah seorang toko ulama Tarim yang tidak asing, ketika disebutkan namanya tiada lagi selain Syekh Umar Muhdhor bin Abdurrahman Asseggaf bin Muhammad Mauladawilah dan seterusnya hingga akhir nasab yang terus bersambung dengan Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Cucu Rasululllah SAW. 
Beliau dilahirkan di kota Tarim, Hadhromaut. 
Beliau dimasa kecil tumbuh di lingkungan yang menonjol sisi keilmuan dan keagamaannya. 
Sejak kecil sudah tampak kegigihannya dalam beribadah dan mencari ilmu. 
Sebagaimana banyak dari Sa'adah Ali Ba’alawy yang lain ia memulai pendidikan masa kecilnya dengan menghafal Al-Quran, belajar dan menekuni berbagai macam disiplin ilmu, bahkan beliau sampai menghafal Minhaajut-Thalibiin, salah satu kitab fiqih fenomenal yang dikarang oleh Imam Nawawi.       
   Syekh Umar Muhdhor tidak cukup belajar di kota Tarim saja, meski kota Tarim terkenal dengan kota ilmu dan adab, beliau melanjutkan menuntut ilmu di berbagai tempat yang lain seperti Haramain dan Syihr. 
Dedikasinya sangatlah tinggi terhadap kitab Minhaj Imam Nawawi, Ihya’ Imam Ghozali, dan Tafsir as-Sulamy hingga seakan-akan setiap ibarat kitab-kitab tersebut hafal di luar kepala beliau. Hal tersebut menunjukkan bahwa kuatnya dasaran Syari'ah yang dimilikinya sehingga menjadi timbangan di setiap tindakannya.

Disamping keilmuannya yang tinggi, beliau juga sering melakukan mujahadah, riyadhoh dan berusaha untuk meninggalkan nafsu syahwat. 
Dalam hal makanan pun beliau meninggalkan makanan yang diinginkan oleh nafsunya, sampai-sampai beliau tidak makan kurma lebih dari 30 tahun, terkadang beliau mengambil kurma tapi hanya sebatas dibolak-balik dan akhirnya dikasihkan ke orang lain, ketika ditanya akan hal tersebut beliau menjawab: “Kurma adalah makanan yang paling disukai nafsuku, dan aku telah meninggalkannya karena Allah SWT”. Pernah juga beliau satu bulan tidak menelan sesuatu apapun selain air putih. Begitulah beliau berusaha dengan keras untuk memerangi nafsunya hingga terpancarlah cahaya keilmuan di dalam dirinya, lautan ilmu dan hikmah mengalir deras di setiap perkataanya membuat banyak orang berdatangan ingin meneguk telaga ilmu yang mampu menghilangkan dahaga. 
Di antara murid beliau adalah Imam Abdullah bin Abu Bakar al-Idrus (Imam Idrus al-Akbar) dan saudaranya Syekh Ali bin Abu Bakar as-Sakran (pemilik Hizb Sakran).

Di samping perhatiannya yang tinggi terhadap urusan ilmu dan mujahadah, Syekh Umar Muhdhor juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap masyarakat setempat. Ketika beliau menjabat sebagai pemimpin kabilah pada saat itu, beliau mengeluarkan beberapa peraturan yang menjaga kemaslahatan warga Tarim, di antaranya beliau mengajak masyarakat untuk menikahkan perempuan dari keluarga yang kaya dengan pemuda dari keluarga miskin, begitu pula sebaliknya, sehingga terjalin keharmonisan dalam hubungan bermasyarakat. Dan dalam urusan mahar, beliau menetapkan ukurannya sebanyak 5 uqiyyah saja (sekitar 595 gram) dengan harapan mendapatkan keberkahan di dalam pernikahan, karena mengamalkan hadits nabi
 أبرك النساء أيسرهن مهورا. 
" Sebaik-baiknya wanita ialah dia yang meringankan mahar mereka ".
Hingga saat ini masih banyak yang mengikuti aturan beliau tersebut.


  • Karomah Syeikh Umar Muhdlor

   Ketika seorang hamba telah menunaikan seluruh kewajiban dan meninggalkan larangan otomatis dia telah melakukan langkah untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta, bilamana ia menambah ketakwaan dan ibadahnya Allah berikan kepadanya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu karomah sebagai seorang wali. 
Bagai matahari di siang bolong, karomahnya Syekh Umar Muhdhor tampak jelas di hadapan masyarakat setempat. 
Suatu ketika beliau bertanya pada seorang tamu: “Makanan apakah yang kamu inginkan sekarang?” Ia menjawab: “Ruthab” (Ruthab: kurma matang yang hanya ada di musim kemarau) sedangkan pada saat itu musim dingin, akhirnya Syekh Umar keluar dan menemui seseorang yang memberikan sejumlah ruthab dan bilang kepadanya: “Ini makan siang tamu Anda”. Ketika Syekh Umar memberikan ruthab tersebut kepada orang yang bertamu seketika itu ia tercengang kaget dan tak mampu mengatakan apapun. Dan beliau mampu berdzikir dengan menyebut nama Allah Yaa Lathiif sebanyak 1000 kali dalam satu nafas.

  •   WAFAT
   Tak henti-henti derajatnya bertambah tinggi disisi Allah SWT seiring bertambah usia beliau hingga akhirnya beliau harus meninggalkan alam yang sempit ini. 
Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Senin, tanggal 2 Dzulqa’dah tahun 833 H. dalam keadaan sujud ketika salat Dzuhur. 
Hal tersebut dikisahkan selesai beliau mendengar adzan Dhuhur beliau langsung bergegas mengambil air wudhu dan mungumandangkan adzan disertai iqamah untuk dirinya sendiri setelah itu beliau bertakbir untuk menunaikan sholat Dzuhur. Ketika sujud telah didapati ruhnya sudah keluar dari jasadnya.  
Dan masih tetap dalam keadaan sujud hingga dimandikan. 

  • KALAM BELIAU
Diantara perkataan beliau adalah:
 “Saya tidak makan sesuatu apapun sampai saya menelannya kecuali saya mengira bahwasannya saya tidak mampu menelannya” (yakni ia selalu mengingat mati). 
Dan sering kali beliau mengatakan dalam majelisnya: 
“Andaikan saya mengetahui bahwa sujud saya diterima oleh Allah SWT., saya akan menjamu penduduk kota Tarim dengan gandum dan daging beserta hewan ternaknya”.

  • Demikian lah ilmu pengetahuan islam yang bisa kami berikan kepada seluruh Ikhwan & Akhwat sahabat Didikan Islamic yang dirahmati oleh Allah SWT. Semoga menjadi berkah untuk kehidupan kita semua. Dihari yang penuh berkah ini kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin agar saling berbagi kebaikan ilmu yang diambil dari artikel dibawah ini. Mari kita saling berbagi pengetahuan kepada orang-orang terdekat kita utamanya agar mereka mendapatkan berkah dan ilmu pengetahuan dari apa yang sudah kita share.
  • Semoga dengan berkah kita meluangkan waktu selama beberapa menit untuk membagikan artikel ini menjadikan kita mudah dalam segala urusan dunia maupun akhirat. Dan menjadi amal ibadah kita. 
  • Bayangkan apabila ada 100 orang bahkan lebih dari itu mereka yang mengambil kebaikan ilmu dari apa yang kita bagikan, maka sebanyak itulah amal ibadah kita. Mari saling berbagi (SHARE) 🙏🏻 .Semoga amal ibadah kita berbagi dihari ini diterima oleh Allah SWT

Belum ada Komentar untuk "Keajaiban Masjid Al-Muhdlor Tarim, Hadromaut"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel