Dosa Yang Terampuni Meskipun Saat Tidur

Isi Konten [Tampilkan]
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 


Kaum muslimin & muslimat, Ikhwan & Akhwat sahabat Didikan Islamic yang dimuliakan ALLAH SWT. 
Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan pengetahuan tentang :

DOSA YANG TERAMPUNI MESKIPUN SAAT TIDUR



Tercantum dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari meriwayatkan tentang seorang sahabat rosul, yang bernama Sayyidina Abu Darda RA yang berdoa sepanjang malamnya agar Allah membaguskan akhlaqnya. 
Berikut riwayatnya:

حدثنا عبد الله بن محمد قال حدثنا أبو عامر قال حدثنا عبد الجليل بن عطية عن شهر عن أمّ الدرداء قالت: قام أبو الدرداء الليلة يصليّ فجعل يبكي ويقول: (اللهم أحسنتَ خَلْقي فحسّن خُلُقي) حتي أصبح. فقلتُ: يا أبا الدرداء! ما كان دعاؤك منذ الليلة إلّا في حسن الخُلُق؟ فقال: يا أمّ الدرداء! إنّ العبد المسلم يحسن خلقه حتى يدخله حسن خلقه الجنة، ويسيء خلقه حتى يدخله سوء خلقه النار، والعبد المسلم يغفر له وهو نائم. فقلت: يا أبا الدرداء! كيف يغفر له وهو نائم؟ قال: يقوم أخوه من الليل فيتهجد فيدعو الله عز وجل فيستجيب له ويدعو لأخيه فيستجيب له فيه

Abdullah bin Muhammad bercerita, ia berkata: Abu ‘Amir bercerita, ia berkata: Abdul Jalil bin ‘Athiyyah menceritakan dari Syahr, dari Ummu ad-Darda’, ia berkata: “(Di suatu malam) Abu ad-Darda pernah melakukan shalat malam lalu beliau menangis seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka perbaguslah akhlaq ku,” (ia melakukannya) hingga menjelang pagi. Aku berkata: “Wahai Abu ad-Darda, kenapa doa yang engkau panjatkan sepanjang malam hanya (tentang) kebagusan akhlak?” Ia menjawab: “Wahai Ummu ad-Darda, sesungguhnya seorang Muslim yang berakhlak bagus maka kebagusan akhlaknya yang akan memasukannya ke surga, dan (jika) berakhlak buruk maka keburukan akhlaknya memasukkannya ke neraka. 
Maka seorang hamba yang mempunyai Akhlaq, ia akan diampuni Allah meskipun ia (sedang) tidur.”

    Kemudian aku bekata (kepada Abu ad-Darda’): “Bagaimana (bisa) ia diampuni padahal ia (sedang) tidur?” Abu ad-Darda’ menjawab: “Saudaranya terbangun pada malam hari, melakukan (shalat) tahajjud, kemudian berdo'a kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah mengabulkannya, lalu dia pun mendoakan saudaranya, (dan) Allah mengabulkannya juga.” (Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Dar al-Hadits, 2005, h. 77-78) .

     Sayyidina Abu Darda (wafat sekitar 31-39 H) adalah sahabat nabi yang faqih, hafal al-Qur’an dan periwayat banyak hadits. Ia berasal dari kaum Anshar, dari Bani Ka’ab bin Khazraj. 
Banyak yang meriwayatkan hadits darinya, sebut saja seperti Anas bin Malik, Abu Umamah al-Bahili, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Ummu Darda’ (istrinya), Sa’id bin Musayyab, dan lain sebagainya. Imam al-Dzahabi menyebutnya sebagai, “hakîm hadzihil ummah, wa sayyidul qurrâ’ bi dimasyq” (hakimnya umat ini dan gurunya para pembaca/pengkaji Al-Qur’an di wilayah Dimasyq) (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 2, h. 336-337)

Dalam riwayat di atas, Sayyidina Abu Darda berdoa sepanjang malam, dan permintaannya hanya satu, yaitu memohon agar dibaguskan akhlaknya sebagaimana Allah telah membaguskan penciptaannya. Hal itu membuat Ummu Darda (istrinya) penasaran, sehingga ia bertanya: “(kenapa) doa yang (kau panjatkan) sepanjang malam hanya (tentang) kebagusan akhlak?” Sayyidina Abu Darda memang mengulang-ulang doanya sampai waktu subuh tiba. 
Ia tidak menyelipkan doa lain selain meminta dibaguskan akhlaknya. Mendengar pertanyaan itu, Abu Darda menjawab: “Wahai Ummu ad-Darda, sesungguhnya seorang Muslim yang berakhlak bagus maka kebagusan akhlaknya memasukkannya ke surga, dan (jika) berakhlak buruk maka keburukan akhlaknya memasukkannya ke neraka. Seorang hamba yang Muslim akan diampuni meski ia (sedang) tidur.” Ini artinya kebagusan akhlak (husnul khuluq) adalah bagian dari sebuah wujud keimanan seseorang hamba. Sebab, salah satu misi utama kenabian adalah “makârim al-akhlâq” (Kemuliaan Akhlak) dan “mashâlih al-akhlâq” (Pembagusan Akhlak). 
Di samping itu, Akhlak bisa menjadi penanda atas kesempurnaan iman seseorang. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Imam Tirmidzi):

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” Dimensi akhlak sangatlah luas. Tidak dibatasi oleh relasi yang baik-baik saja, seperti “kau baik padaku, maka aku baik padamu,” atau, “aku baik padamu, maka kau pun harus baik padaku,” tapi juga perbuatan yang tidak seimbang, seperti berbuat baik pada orang yang memusuhi, memaafkan kesalahannya dan menjalin kembali tali silaturahiim yang telah terputus. 

    Rasulullah bersabda (HR. Imam Abdurrazaq dan Imam al-Baihaqi):

ألَا أدُلُّكم علي خير أخلاق أهل الدنيا والآخرة: أن تَصلَ مَن قطَعك, وتُعطيَ مَن حَرَمك، وتَعفو عمَّن ظلَمك

“Tidakkah kalian mau kutunjukkan sebaik-baiknya akhlak penduduk dunia dan akhirat; (yaitu) kau menyambung (kembali hubungan persaudaraan) dengan orang yang telah memutuskanmu (memusuhimu), kau memberi (atau berbagi dengan) orang yang telah mencegah (atau mengambil hak)mu, dan kau memaafkan (kesalahan) orang-orang yang telah menzhalimi mu.” (Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Durrul-Manshur fî Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Kairo: 
Markaz Hajar li al-Buhuts wa al-Dirasat al-‘Arabiyyan wa al-Islamiiyah, 2003, juz 6, h. 711).
Karena itu, dalam jawaban Sayyidina Abu Darda’, akhlak memiliki peran penting atas posisi manusia kelak. Akhlak baik (husnul khuluq) bisa memudahkan seseorang masuk surga, dan akhlak buruk (su’ûl khuluq) dapat memudahkannya masuk neraka. Selain itu, ada tujuan lain yang dimaksud Sayyidina Abu Darda’, yaitu terciptanya hubungan sosial yang saling memaafkan dan saling memohonkan ampun kepada Allah. Ia mengatakan: “Seorang hamba yang Muslim akan diampuni meski ia (sedang) tidur.” Perkataan ini melahirkan tanda tanya baru di benak istrinya. Ia bertanya lagi: “Bagaimana (bisa) ia diampuni padahal ia (sedang) tidur?” Sayyidina Abu Darda’ menjawab: “Saudaranya terbangun pada malam hari, melakukan (shalat) tahajjud, kemudian berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah mengabulkannya, lalu dia pun mendoakan saudaranya, (dan) Allah mengabulkannya juga.” Ini menunjukkan pertalian kuat antara husnul khuluq (akhlak yang baik) dengan kesadaran personal manusia. Bagi orang yang telah terbangun akhlaknya, ia tidak berminat untuk selamat seorang diri. Ia pun tidak berminat untuk memutus tali silaturahmi atau membiarkan tali itu tetap putus meski di dalam doa. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, bahwa sebaik-baik akhlak adalah meluaskan maaf, melebarkan kemurahan hati dan memanjangkan persaudaraan, meski ia disakiti, dizalimi dan dimusuhi. Di sabdanya yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita tentang iman yang mewujud dalam tindakan dan rasa. Iman yang diaktualisasikan dengan cinta kepada saudaranya sebagaimana cinta terhadap dirinya sendiri (lâ yu’minu ahadukum hattâ yuhibba li akhîhi mâ yuhibba li nafsihi). Semua manusia ingin diampuni dosa-dosanya, ingin dirahmati, ingin dijauhkan dari siksa neraka, dan ingin menikmati surga. Keinginan yang semula bersifat personal, karena dorongan iman, meluas menjadi keinginan bersama. Seorang yang beriman, tidak akan hanya mementingkan keselamatannya sendiri. Oleh karenanya, meskipun sedang tidur, seorang mukmin dapat diampuni dosa-dosanya karena doa dari saudaranya yang lain. Doa dari orang-orang beriman yang berlaku di atas cinta dan akhlak yang baik. Itu artinya, seorang yang berada di jalan akhlak, akan selalu mengingat dan mengharapkan keselamatan untuk saudara-saudaranya, dari mulai yang baik kepadanya, yang memusuhinya, sampai yang tidak dikenalnya sama sekali. 
Bahkan kalau saja kita mengetahui betapa penting dan besarnya keutamaan Akhlaq dan Adab, maka seluruh manusia pun pasti berlomba-lomba untuk ber-Akhlaq.
Sebegaimana telah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:
" Seorang mukmin yang mengamalkan Akhlaq dan Adab, niscaya ia akan mendapat pahala(kelebihan) seperti seorang hamba yang senang melaksanakan Sholat Sunnah dimalam hari sholat Tahajjud, dan berpuasa disiang hari ".
Lihatlah !, betapa besarnya keutamaan orang yang ber-Akhlaq.
Pertanyaannya, sudahkah kita berada di jalan itu? .


Wallahu A'lam.

  •             Demikian lah ilmu pengetahuan islam yang bisa kami berikan kepada seluruh Ikhwan & Akhwat sahabat Didikan Islamic yang dirahmati oleh Allah SWT. Apabila terdapat suatu kesalahan dalam penyampaian ilmu islam, boleh Antum kritik dan memberi saran agar bisa kami perbaiki . Semoga menjadi berkah untuk kehidupan kita semua. Dihari yang penuh berkah ini kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin agar saling berbagi kebaikan ilmu yang diambil dari artikel dibawah ini. Mari kita saling berbagi pengetahuan kepada orang-orang terdekat kita utamanya agar mereka mendapatkan berkah dan ilmu pengetahuan dari apa yang sudah kita share.
  •             Semoga dengan berkah kita meluangkan waktu selama beberapa menit untuk membagikan artikel ini menjadikan kita mudah dalam segala urusan dunia maupun akhirat. Dan menjadi amal ibadah kita. 
  •             Bayangkan apabila ada 100 orang bahkan lebih dari itu mereka yang mengambil kebaikan ilmu dari apa yang kita bagikan, maka sebanyak itulah amal ibadah kita. Mari saling berbagi (SHARE) 🙏🏻 .Semoga amal ibadah kita berbagi dihari ini diterima oleh Allah SWT

Belum ada Komentar untuk "Dosa Yang Terampuni Meskipun Saat Tidur"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel